Feeds:
Posts
Comments

Masalah Cita-Cita

Sudah beberapa hari ini media massa ramai memberitakan kasus rekaman hasil penyadapan KPK. Resmilah sudah busuknya institusi Kejaksaan dan Kepolisian. Tapi bukan berarti masyarakat terkejut, paling paling juga sekedar menghela nafas panjang. Ini rahasia umum kan?

Saya tak mau berpanjang lebar memaki. Seperti yang sudah saya ceritakan, saya dulu sempat akrab dengan bapak bapak berseragam. Tak semuanya memang bermoral kelabu.

Baiknya saat ini saya ceritakan satu pengalaman menarik soal bagaimana masyarakat mengekspresikan resistensi dan antipatinya kepada dua institusi tersebut.

Sewaktu saya melakukan fieldwork di Madura beberapa tahun lalu, saya menemu seorang pemuda yang bercita-cita untuk menjadi tentara. Cita cita ini tidak semenarik alasan di belakangnya. Ketika saya tanya kenapa tidak menjadi polisi saja dengan alasan ‘lebih basah’ dan kalau sudah bisa masuk ke dalam kantor ‘bisa ngobyek’? Dia kontan tersenyum lebar.

‘Justru itu mas, saya paling anti dengan kelakuan semacam itu. Saya malu sama masyarakat. Bolehlah saya miskin, tapi kalau pulang tak sampai malu dilihat tetangga.’

Benarlah, seperti peribahasa orang Madura. Boleh putih tulang asal jangan putih mata. Maksudnya, lebih baik terluka fisik hingga tulang terlihat daripada menanggung malu hingga harus menyembunyikan bola mata dari khalayak.

Kebetulan, di daerahnya tersebut, setiap musim tembakau panen polisi akan sering merazia kendaraan yang lewat. Tak peduli truk tembakau atau angkot biasa, semua disapu. Cuma demi pungli yang besarnya, astopiloh, lima ribu!.

Seperti yang terjadi suatu sore ketika saya melintasi daerah bukit menuju Tagangser Laok, desa tempat saya melakukan fieldwork. Ada 4 sampai 6 petugas bersenjata (di mata saya terlihat seperti Uzi Kalashnikov, tapi tak mungkinlah. Ini kan bukan Afghanistan) yang tiba-tiba menghentikan angkutan umum yang saya tumpangi. Mereka membentak sopir dan penumpang menyeru agar penumpang yang membawa narkoba (sic!) atau imigran illegal dari Malaysia segera menyerahkan diri saja. Jantung saya berdegup kencang. Saya memang bukan pengedar narkoba apalagi imigran gelap, tapi untuk tuduhan seberat itu bisa saja ada orang yang sengaja menaruh sesuatu ke tas saya. Bukan sekali dua kali saya mendengar polisi sengaja menaruh barang haram di tas seseorang agar ia bisa ditangkap. Biasanya target operasi yang licin. Agar singkat, polisi tangkap saja orang itu. Barang buktinya ditaruh sekalian di tasnya.

Batin saya dalam hati, saya mahasiswa UGM, kalau kenapa kenapa status UGM saya sakti kok. Pak Camat aja hormat sama kita. Lagi pula urine saya bersih. Terakhir kali hirup pot, tahun lalu apa ya. *Maklum mahasiswa yang sok Ngamerika.

Para petugas segera merangsek ke dalam angkot dan menyeret keluar seorang pedagang jamu sambil menyuruh semua penumpang turun dari mobil. Si pedagang, anak muda berumur belasan, tersenyum kecut sambil terpaksa membuka koper yang ia bawa. Beberapa jamu cap nona meneer terlihat berdesakan diantara bungkusan bungkusan plastik. Pak petugas segera memeriksanya dengan acuh tak acuh, sambil berceramah tentang barang kadaluarsa dan penipuan konsumen. *Lho, bukannya tadi tuduhannya bawa narkoba ya?

Sopir angkot yang saya tumpangi segera membaca situasi dan mendekati sang bapak pemimpin operasi. Mereka kasak kusuk di belakang mobil. Beberapa menit kemudian, sopir angkot menyuruh semua penumpang naik dan melanjutkan perjalanan.

Begitu saja? Ternyata para petugas cuma mau minta setoran. Aksi teatrikal ala penyergapan bandar narkoba turns out cuma bumbu saja.

Tunggu dulu, ceritanya belum selesai. Beberapa puluh meter di depan kemudian angkot tiba tiba berhenti lagi. Kali ini yang menyetop dua pria berseragam membawa mobil dinas. (Kali ini, tampaknya buayanya. Kalo yang tadi cicak mungkin ya.) Sopir angkot segera sigap dan meremas uang lima ribuan untuk disalamtempelkan. Mobil pun melenggang kangkung.

Masyarakat petani tembakau sudah mafhum dengan tradisi ini. Dan mereka muak. Berkali kali saya dengar cerita anak muda yang bangga bisa memperdaya polisi dengan berbagai cara. Seakan di alam bawah sadar mereka, ada luapan kemarahan yang siap meledak. Hasilnya, diantara lain, adalah cerita anak muda tadi. Yang lebih memilih jadi tentara dibanding jadi polisi. Insentifnya, rasa hormat masyarakat.

‘Jadi tentara itu bela negeri mas. Bangga saya.’

Ini serius. Sepuluh dua puluh tahun ke depan, orang orang yang punya hati nurani bakal emoh mendaftar jadi polisi. Padahal, sekarang saja yang punya hati nurani di kepolisian mungkin tidak sebanyak jamannya polisi Hoegeng.*Sambil mengingat jokenya GusDur; polisi yang tak bisa disuap cuma Hoegeng dan polisi tidur!

Saya baru saja membaca sebuah komentar untuk artikel ‘Institusinya Kotor, Kapolri dan Jaksa Agung Diminta Mundur’ di situs pembaca kompas. Baiknya saya salin-tempel saja, agar akurat:

Ersal @ Rabu, 4 November 2009 | 09:52 WIB
Waktu saya masih anak2, saya bangga dengan profesi Polisi dan Jaksa. Setelah remaja sampai saat ini berusia 42 thn, bagi saya, profesi Polisi dan Jaksa memang profesi yang sangat hina. Lebih baik jadi karyawan swasta (Kuli).

Nah lho!

Ibukota

Saya ingat betapa dulu saya sangat menghindari untuk pergi ke Jakarta dengan alasan saya takut. Kota ini kejam. Ia bisa buat orang baik berubah jadi sakit. Ia juga tak aman. Tempat orang lemah dilalap preman.

Kini saya tahu saya berlebihan. Kota punya senyumnya sendiri  yang ia simpan bagi setiap pengunjungnya yang berbeda. Kebetulan Jakarta kemarin tersenyum manis pada saya. Ia tak sekejam yang saya duga. Ia ramah, seramah tante-tante girang.

Senen, sebagai misal. Tempat ini selalu diceritakan oleh sebagian besar teman sebagai tempat terakhir yang akan mereka jadikan tujuan plesir sore. Premannya banyak, kata teman saya yang menolak mengantar untuk hunting buku bekas. Kebetulan kami habis dipalak di atas bajaj.

Well, ia benar. Premannya dimanamana. Menggertak pengunjung culun seperti saya dengan berbagai macam seruan. Kalau tak pintar bawa diri, habislah.

Namun, selayaknya manusia, abang abang preman ini juga makan nasi. Kalau disapa nyahut, kalau dikasih rokok tertawa lebar. Buktikan saja.

Selama 4 hari menggelandang di Jakarta kemarin, saya tak punya pilihan selain kembali ke Senen untuk menunggu bus. Itu satusatunya tempat yang saya tahu di Jakarta sebab kereta jatuhnya disana. Dengan jeans Lee biru belel, kaus hitam siluet merah Tan Malaka, serta wayfarer satusatunya saya menyisir toko buku bekas, lapak pakaian abal abal secondhand, dan terminal tempat berbagai jenis orang lalu lalang. Saya baru kembali ke kos teman ketika malam mulai turun. Atau jika ia tak ada di kos, saya tak punya pilihan selain tidur di stasiun.

Suatu sore, ketika sedang melongokkan kepala menyusup diantara pedagang buku bekas untuk membeli majalah, saya dipanggil seorang abang paruh baya. Dari logatnya, ia orang Minang.

“Mau cari apa kau hei?sini sini dulu lah, majalah? Buku? Apa apa?”

serunya agresif.

“Lihat lihat dulu, boleh ya bang…”

sahut saya sembari menengok wajahnya.

“Majalah ya? Kau kan yang kemarin beli majalah sama adikku di sini kan.”

Ucapnya sambil mendekat. Ternyata ia tahu kalau saya kemarin juga sempat beli majalah disini. Ah, insyaflah saya kalau baju Tan Malaka dan wayfarer ini sudah jadi kostum satusatunya selama 3 hari.

“Kau mahasiswa ya? Dari mana?”

tanyanya kembali. Tak punya jalan melarikan diri, akhirnya saya ladeni juga ajakannya mengobrol. Singkat cerita, didudukkannya saya di sebuah kursi dan mulailah kami mengobrol. Teman temannya yang lain kemudian datang berkumpul juga.  Kalau keadaan terjepit begini keluarlah strategi when in Rome ala para antropolog. Mau tak mau.

Ternyata saya bisa juga mengobrol dengan abang abang itu. Walau obrolan mereka, alamak, jauh sekali dari obrolan warung kopi di Jogja yang ngintellek khas para cultural commuters. Mereka bergosip soal hal hal yang cukup bikin ngeri juga. Perkara pegang bokong istri orang lah, tentang hutang yang belum terbayar dan rasanya lagi dikejar kejar, sampai ke masalah makan daging mentah.

Maksudnya, bunuh orang.

Ada yang menyentak saya sampai disini. Saya merasa tak asing dengan obrolan semacam tadi, malah ada sesuatu yang terasa akrab sekali. Kenapa ya?

Ah, benarlah saya telah jadi kacang yang lupa kulitnya. Malin yang kasip. Baru 5 tahun saya tinggal di Jogja namun saya telah lupa rasanya hidup di kota asal Singaraja.

Singaraja, kawan, tak kalah kejam dari ibukota. Percayalah.

Obrolan dengan abang di Senen tadi melempar saya kembali pada pengalaman menghabiskan masa remaja dahulu. Saat kehidupan jauh dari kata beradab.

Saya jadi teringat kalau pengalaman tidur di luar rumah bukan hal yang baru bagi saya. Saya pernah tidur di pelabuhan saat lari dari rumah di umur 11 tahun. Rasanya tak semenderita itu kok.

Premannya juga sebenarnya dimana mana sama. Tak di ibukota, tak di Madura, tak di Singaraja. Mereka mabuk, berkelahi, bunuh orang, tidur dengan perempuan sembarangan, berjudi. Sebutkan saja. Tapi di sisi lain mereka juga manusia, kalau lagi waras juga bisa diajak ngobrol. Saya tak asal omong. Saya tahu rasanya berteman dengan orang orang seperti itu dan hidup seperti mereka; mabuk bareng pak RT, berkelahi pakai pisau, dikejar polisi tengah malam buta dengan mobil dan motor, dihajar dalmas, dan berjudi sampai lupa sekolah. Terimakasih Singaraja, pengaruhmu luar biasa.

Saya habiskan masa remaja saya sekelamnya anak muda bisa berkubang. Kalau sekarang saya jadi cemen dan baik baik plus ngintellek seperti ini, salahkan Jogja.

Garcia Lorca di Granada

Hari hari ini saya ingin sekali menemui Federico Garcia Lorca di Granada, kota dimana—meminjam ujaran Joko Pinurbo—Lorca ditemukan oleh puisi.

Saya menerawang. Menghela nafas sejurus kemudian, sebelum akhirnya menutup kedua buah kelopak mata saya. Aih, harum tanah selepas hujan. Saya coba nikmati dalam diam. Mungkinkah ini suasana yang menyergap Lorca saat ia menulis bait-bait puisinya?

Saya sedang murung. Namun saya tak bisa menjelaskan perasaan ini dengan baik. Tak pula saya mampu menuliskannya dengan baik. Tak sebaik Lorca ketika menulis sakitnya daging ditusuk sinar bintang dan indahnya dimabuk semilir angin. Di Granada. Ya, di Granada.

Granada tampak luar biasa, tulis Lorca suatu kali, dalam surat untuk Fernandez Almagro di akhir Oktober 1926. Musim semi baru saja turun dengan segala pesona dan cahaya yang dikirim oleh Sierra. Segala yang kekuningan bermunculan, dalam dan tak terkatakan, ditingkahi duapuluhan lapis warna biru.

Granada tak terlukiskan, lanjutnya, bahkan tak pula oleh seorang Impresionis. Ia tak tergambarkan sebagaimana air tak berarsitektur.‘Everything runs, plays, and slips away. Poetry and Music. A city of fugues without skeleton. Melancholy with vertebrae’, pungkasnya dengan kata-kata yang membuat saya tak kuasa untuk tidak memejamkan mata. Membayangkan Granada.

Saya yakin Lorca menderita kasmaran pada kotanya, pada gadis gadisnya. Gelora yang selalu muncul dalam puluhan surat-suratnya, dalam rangkaian puisinya. Rasa yang saking luar biasanya, ineffable, membuat persona dalam puisinya tampak sering kali riang, disaat yang lain murung. Kadang merenung.

Saya juga sedang murung. Bulaksumur jadi serupa Andalusia di mata saya. Langit tak melengkung biru seperti biasanya. Namun saya tak bisa menjelaskan perasaan ini dengan baik. Hal yang seharusnya disampaikan puisi. Karenanya saya ingin sekali menemui Lorca di Granada. Saya ingin bertanya apakah saya sedang terbakar asmara, sehangus Lorca dalam buaian tubuh indah Maria del Carmen:

I’d love to lose myself

In your dark country

Maria del Carmen

Lose myself

In your deserted eyes

and play the keyboard

of your ineffable mouth

in your endless embrace

the air would be dark,

the breeze would be downy

as your skin

i would lose myself

in your trembling breast,

in the black depths

of your soft body

I would lose myself

in your dark country,

Maria del Carmen.

Saya sedang menelikung waktu ke masa lalu, dalam lamunan. Menemui sang penyair, mungkin di sebuah beranda hacienda, mendengar ceritanya saat menulis Dark Song diatas, memastikan saya benar benar kasmaran.

Harum tanah selepas hujan. Saya pejamkan mata saya. Biarkan diri tenggelam dalam diam, menunggu datangnya kata-kata. Menanti puisi.

Mungkin seperti ini suasana hati Lorca.

Di Bulaksumur.

Aih, maksud saya, di Granada.

NB:

Ayo Maria del Carmen, main ke kos

Pakai high heels

Dan baju merahmu

Kita cecap panasnya api asmara

Hingga raga menggeliat

Dan nafas memburu

Memburu…

Smart

It is fascinating to see mating human’s mind at work. I once read an article in the NY Times telling how books you read might be a determining factor of your relationship. Your chance to initiate a romance or succeed a break up depends on whether or not you have Ginsberg’s poetry or less obviously, to have Don Delillo’s latest novel piled on your only bookshelf.

Why all this fuss about books? As I understand later, this is all about your being smart. Or precisely, this is about the same level of discourse with your dating partner. Boy, now I wonder no more why those girls are in chase of smart buddies. Being smart guarantee you easier to get into their pants. Though not necessarily guarantee a good intimate chemistry or simply wonderful sex.

I usually never take this smarty-frenzy seriously since I’m usually at the chased end (kidding, of course). But recently, this hokum bugs me beyond tolerance. I just realized that my social circle is filled by this type of girls. They are excited with witty remarks, they stare passionately to guys they considered as ‘brains’. Some even go as far as comparing their current boyfriend with other smart asses. I’m afraid they will just dump their boyfriend in a relentless pursuit of a smarter one. Come on, don’t they realize that being smart doesn’t change the world? Smart people don’t even move an inch of this world progress. Geniuses do. Oh, ok you’re right. Some smart people get nice hooked-ups. But so do underachievers with slowly moving-train-of-thought and bling-bling squeezed from their old man’s filthy money.

What’s the difference then?

If I have to wish, being smart is not at the top of my wish list. Putting some pop philosophical thought on this, the lebenswelt of those smarty pants might not as colorful as say, a plain simple farmer from suburban Sleman. They eat, they shit, they have sex on non-procreative bases or if thing goes wrong, accidentally procreative. Well they read sometimes, but so does the farmer. Only the farmer reads manual of the fertilizer they just bought. Smart people read pop novel.

Geniuses, at the other hand, dream. They dream of conquering the world, banishing poverty, building new civilization on Mars, cloning Sophia Loren so today’s generation can see how boobs can wow the entire world. They dream of electric sheep sometimes (as android wannabes). Their lebenswelt are somehow unique. They are at some point hanging on blurred boundary of subliminality and nonsense.

Only a poet can challenge geniuses’ lebenswelt. A poet’s vision stretch as far as the firmament goes. It is, some believe, independent of time and space. I wonder what a poet feels about the world surrounding him. Now you smarty pants and smarty oriented girls can drool.

Yes, I am an ordinary poet wannabe plunging deep to the darkest decadence of life. I’m not ashamed of that since ironically our most representative living genius, Stephen Hawking, is a poet wannabe as well.

However, to save me from being accused as an apologetic underachiever, I’ll tell you what. I am surely not a genius. But to be humiliated as smart, rephrasing Sheldon Cooper’s words, I need to loose 10 to 15 of my IQ points*. Now you look surprised. So I don’t have to tell you may current GPA.

*Based on my high school IQ test.

Aku Milikmu

Konon, seorang penyair bisa meramal kematiannya sendiri di baris-baris puisinya. Contoh paling terkenal tentu saja Chairil Anwar yang pernah menulis ‘di Karet (daerahku y. a. d.)’.

Saya ingin sekali dikenang sebagai penyair, kalau begitu. Saya ingin menulis tentang bagaimana rasanya menjemput ajal di dalam tidur. Tentang sang penyair menanti akhir bersama sang kekasih yang tak kuat menahan isak, kusyuk dalam doa.

Lagu pengiring di liang lahat mungkin, ‘You are the best thing that ever happened to me’ dari sebuah kaset sweet memories tua.

Saya tak tahu rupa ajal. Tapi saya tahu bagaimana rasanya meregang dicekam maut. Dalam takut dan asa yang hampir putus, saya beruntung sekali ditemani seseorang di tepi pembaringan. Rumah sakit, dan jerit seram di tengah malam. Ia yang mengulurkan tangan dan kasihnya dalam genggam tangan yang hangat, yang memandikan saya layaknya seorang Ibu saat membasuh anaknya untuk pertama kali, yang menahan marah ketika saya sedang banyak tingkah, yang menemani saya menangis. Ia yang menerima saya dalam papa. Ia yang tabah.

Saat itu pula saya takluk. Saat itu pula saya tahu saya telah berlabuh. Saya ingin sekali berlutut dan mencium telapaknya yang menjanjikan surga. Saya ingin menangis. Sungguh.

Saya tak yakin bagaimana cara maut mengecup saya nanti.

Yang saya tahu pasti, saya ingin ia ada di samping saya. Mengulur asa yang tulus di kedip terakhir mata saya.

Saya tak pasti apa lagu terakhir pemakaman saya nanti. Yang saya tahu, saya ingin ia menyanyikan ‘you are the best thing ever happened to me’ dalam hati.

Untuk senja pacar saya. Tak usah cemburu. Aku milikmu.

Sibuk

Saya sekarang sibuk sekali. Semoga pacar saya ngga marah karena saking sibuknya saya sering lupa untuk kirim sms. Sekedar tanya apa sudah makan. Mau kemana hari ini? Atau mungkin sekedar selamat tidur yang bisa bikin ia lebih lelap.

Ah saya sibuk sekali. Saya lihat hape saya. Sepi. Tak usah punya hape saja mungkin ya

Dawn To The Young Guns

The world has just received some good news. The first is Lewis Hamilton’s 5th place finish in Brazil ergo his victory over Felipe Massa which records him as the youngest F1 champion. Practically putting Alonso as a has been. And yes, you can say that again, Barack Obama’s long predicted triumph over old grandpa Mc Cain. Practically making him the first ever ‘anak menteng’ to run office in the White House.

Now I don’t want to review again any more news from the media that are already caught by Obama frenzy. I’m just happy to state the manifesto of all the young guns all around the world which reverberates in Chiaki Asami and Akira Hojo’s dream: the time has come for old grannies to step aside and pave us the way.

By the time you read this, Samir Nasri has just sent Red Devils squad home with tears.

Congrats! Hail the Young Guns!

PS: Obama’s triumph indicates that Americans are not that self centered earthlings. After voting for an awfully mediocre president two times in a row who dragged the whole nation—and nearly the world—to bankruptcy, they finally learn something. Yes they and we need change!

Pada Senja*

Saya ingat sekali, dulu ada seseorang yang memberitahu saya sesuatu tentang rasa percaya dan kejujuran. Kata-katanya kini mengiang terus, menyapu ingatan saya laksana ombak yang mendebur berulang kali ke pantai sanubari.

Di tengah gelisah yang merundung hati saya kini, saya ingin sekali menatap cakrawala dikala senja atau fajar. Pada sebuah pantai. Saya bayangkan semburat merah langitnya dipangku latar gelap samudra. Saya pejamkan mata saya. Terdengar jerit camar, sayup sayup.

Saya ingin sekali bercakap tentang kejujuran dan rasa percaya pada samudra. Pada cakrawala, pada fajar. Pada camar.

Pada senja.

*Mencari Neruda dalam kata-kata. November 2008, kala hujan.

Pemuda

Saya mencoba memahami mahasiswa generasi saya sekarang yang di duapuluhan umurnya masih menadah tangan pada orang tua, atau sedang bingung memikirkan esok mau kerja apa disaat menguyah bigmac. Lalu saya bayangkan Sutan Sjahrir tujuh puluh sembilan tahun yang lalu di Leiden merajut mimpi tentang sebuah negara bernama Indonesia.

Yang mempertemukan kami cuma usia, Bung Sjahrir berumur dua puluhan tahun saat itu, sisanya terbentang sebuah pertanyaan yang memenuhi kepala saya sekarang; ada apa dengan sang generasi muda?

Saya pesimis. Sementara dahulu Bung Sjahrir menyelam dalam studinya sekalian belajar berpolitik dan membibit kader bersama Hatta di Perhimpunan Indonesia, saya kini sibuk window shopping di mall. Sembari melirik mbak-mbak Giordano.

Tidak ada yang salah dengan window shopping dan mall, yang salah adalah ketika kami mabuk dengan privilege kami sebagai kelas menengah yang secara finansial mampu dan lupa dengan tanggung jawab kami sebagai golongan yang seharusnya membawa perubahan. Kami adalah kelas yang sadar politik, terpelajar dan mempunyai aksesibilitas hampir tak terbatas. Karena itu, kami punya tanggung jawab pada mereka yang terpinggirkan, tak berdaya secara ekonomi, dan dilupakan dalam pengambilan kebijakan.

Saya makin pesimis. Presiden saya baru saja mengucapkan selamat hari sumpah pemuda lewat sms berisikan pesan agar saya tidak terjerat narkoba. Mungkin dia tahu, dengan kemudahan yang kami punyai, kemungkinan kami menjadi generasi hedon-epicurean sangatlah besar.

Skripsi saya belum selesai, saya muak dengan aktivisme mahasiswa yang kampungan sok revolusioner, saya kehilangan kepercayaan dengan rekan mantan aktivis yang berpolitik mau menghamba Prabowo hanya karena ia kini pasang nama petani dan pedagang pasar.

Saya mau makan bigmac di malioboro mall. Ini baru potret pemuda Indonesia.

Meksiko, 1934

Tubuh kedua orang itu hampir-hampir telanjang. Yang perempuan dengan pinggulnya yang lebar menindih pasangannya. Kasur yang melengkung. Remang kamar yang murung. Kaki-kaki yang saling menyilang. Selimut berkerut. Dan desah. Mungkin jalang. Tangan yang mencari, menyelusup. Dan gerutu yang tak sabar. Dan jerit.

Dan, istirahatlah kata-kata. Kembalilah dalam hasrat.

Rumania, 1975

Di sudut bilik kereta, pulas tetidur sejoli. Dalam dekap mereka hening. Lengan si pria lingkari leher si gadis yang terlelap di bidang dadanya. Ada lelah dalam gurat wajah. Ada hidup yang seakan redup. Di kereta, ya di kereta. Kubayangkan di luar, ia melaju dalam terang lampu-lampu. Kota. Wong Kar Wai.

Di dalam sini, istirahatlah kata-kata. Kembalilah dalam melankolia.

*Untuk Wiji Thukul dan Henri Cartier Bresson

Older Posts »