Hari hari ini saya ingin sekali menemui Federico Garcia Lorca di Granada, kota dimana—meminjam ujaran Joko Pinurbo—Lorca ditemukan oleh puisi.
Saya menerawang. Menghela nafas sejurus kemudian, sebelum akhirnya menutup kedua buah kelopak mata saya. Aih, harum tanah selepas hujan. Saya coba nikmati dalam diam. Mungkinkah ini suasana yang menyergap Lorca saat ia menulis bait-bait puisinya?
Saya sedang murung. Namun saya tak bisa menjelaskan perasaan ini dengan baik. Tak pula saya mampu menuliskannya dengan baik. Tak sebaik Lorca ketika menulis sakitnya daging ditusuk sinar bintang dan indahnya dimabuk semilir angin. Di Granada. Ya, di Granada.
Granada tampak luar biasa, tulis Lorca suatu kali, dalam surat untuk Fernandez Almagro di akhir Oktober 1926. Musim semi baru saja turun dengan segala pesona dan cahaya yang dikirim oleh Sierra. Segala yang kekuningan bermunculan, dalam dan tak terkatakan, ditingkahi duapuluhan lapis warna biru.
Granada tak terlukiskan, lanjutnya, bahkan tak pula oleh seorang Impresionis. Ia tak tergambarkan sebagaimana air tak berarsitektur.‘Everything runs, plays, and slips away. Poetry and Music. A city of fugues without skeleton. Melancholy with vertebrae’, pungkasnya dengan kata-kata yang membuat saya tak kuasa untuk tidak memejamkan mata. Membayangkan Granada.
Saya yakin Lorca menderita kasmaran pada kotanya, pada gadis gadisnya. Gelora yang selalu muncul dalam puluhan surat-suratnya, dalam rangkaian puisinya. Rasa yang saking luar biasanya, ineffable, membuat persona dalam puisinya tampak sering kali riang, disaat yang lain murung. Kadang merenung.
Saya juga sedang murung. Bulaksumur jadi serupa Andalusia di mata saya. Langit tak melengkung biru seperti biasanya. Namun saya tak bisa menjelaskan perasaan ini dengan baik. Hal yang seharusnya disampaikan puisi. Karenanya saya ingin sekali menemui Lorca di Granada. Saya ingin bertanya apakah saya sedang terbakar asmara, sehangus Lorca dalam buaian tubuh indah Maria del Carmen:
I’d love to lose myself
In your dark country
Maria del Carmen
Lose myself
In your deserted eyes
and play the keyboard
of your ineffable mouth
in your endless embrace
the air would be dark,
the breeze would be downy
as your skin
i would lose myself
in your trembling breast,
in the black depths
of your soft body
I would lose myself
in your dark country,
Maria del Carmen.
Saya sedang menelikung waktu ke masa lalu, dalam lamunan. Menemui sang penyair, mungkin di sebuah beranda hacienda, mendengar ceritanya saat menulis Dark Song diatas, memastikan saya benar benar kasmaran.
Harum tanah selepas hujan. Saya pejamkan mata saya. Biarkan diri tenggelam dalam diam, menunggu datangnya kata-kata. Menanti puisi.
Mungkin seperti ini suasana hati Lorca.
Di Bulaksumur.
Aih, maksud saya, di Granada.
NB:
Ayo Maria del Carmen, main ke kos
Pakai high heels
Dan baju merahmu
Kita cecap panasnya api asmara
Hingga raga menggeliat
Dan nafas memburu
Memburu…


