Orang Indonesia mengenal beberapa pepatah yang mempunyai arti sia-sia. Diantaranya antara lain; pungguk merindukan bulan dan mimpi di siang bolong. Jika kita melihat iklan politik para calon kontestan pemilihan umum mendatang, kita sering berpikir apakah mereka sudah luntur keIndonesiannya dan mulai lupa dengan pepatah-pepatah diatas.
Soetrisno Bachir hampir bukan siapa-siapa jika saja iklannya tidak sedemikian eksesif nyelonong tanpa permisi ke ruang keluarga kita beberapa bulan belakangan. Sementara Rizal Mallarangeng mungkin cuma dikenal oleh kalangan terbatas masyarakat Indonesia sebelum mulai akrab dengan slogan “where there is a will, there is a way”. Cuma Prabowo Subianto yang seharusnya masih diingat masyarakat Indonesia karena masih tersangkut paut dengan keluarga Cendana. Semua tokoh ini berbagi hal yang sama: ingin ngetop mendadak dan berharap dipilih masyarakat Indonesia yang sebagian besar mudah diharubiru iklan.
Saya ingin mencatat beberapa hal tentang Rizal Mallarangeng, sebab Bung yang satu ini punya latar belakang yang menarik sebagai seorang mantan aktivis mahasiswa.
Aktivis Tipe Baru
Pertama, latar belakang sebelum memutuskan terjun ke politik. Rizal, kita tahu, adalah direktur eksekutif Freedom Institute, sebuah lembaga yang berusaha untuk mendiseminasikan ide-ide tentang demokrasi dan kebebasan pada masyarakat luas lewat penerbitan buku, seminar, dan penganugrahan Achmad Bakrie Award. Sebelum memutuskan pulang untuk membangun lembaga ini, ia sempat mengajar di Ohio State University dimana ia meraih gelar doktornya dibawah bimbingan Bill Liddle. Disertasi yang ia pertahankan kemudian ia bukukan dengan judul Mendobrak Sentralisme Ekonomi Indonesia 1986-1992.
Yang menarik dari disertasi ini, selain gaya tulisannya yang memikat sehingga ekonom Chatib Basri sampai menjuluki Rizal sangat “berbahaya”, adalah idenya tentang komunitas epistemis, yaitu sekelompok individu yang berusaha menyuntikkan gagasan ke tengah masyarakat dan bertarung di pasar pertukaran wacana untuk mempengaruhi pengambilan kebijakan. Ide yang ia kemukakan kemudian menjadi sangat populer di kalangan aktivis mahasiswa yang sadar dengan mandulnya demonstrasi.
Ini kemudian membuat Rizal menjadi berbeda jika kita bandingkan dengan rekan sepantarannya kini di pentas nasional seperti Fadjroel Rahman; ia bukan aktivis yang dikenal sebagai demonstran. Rizal semasa masih menjadi aktivis mahasiswa lebih dikenal karena tulisan-tulisannya. Konon, ia adalah bagian dari mereka yang mendirikan Sintesa, sebuah lembaga pers mahasiswa di almamaternya Fisipol UGM. Ia pun aktif menulis di berbagai media nasional. Tulisan dan gagasannya tajam. Ia pernah meragukan kapasitas Arif Budiman sebagai seorang ilmuwan dan menjulukinya sebagai aktivis Kantian yang kukuh dengan ide-ide sosialisme walau langit runtuh. Ia juga membabat mereka yang meragukan perannya dalam negosiasi Cepu dengan balik menyerang pihak yang mengkritik Exxon hanya atas dasar nasionalisme semu sebagai bandit sebenarnya dalan kredo Samuel Johnson: nationalism is the last refuge of scoundrels.
Dari segi ideologi, Mallarangeng yang satu ini juga sangat menarik. Ia tidak jatuh dalam tradisi mantan aktivis mahasiswa Indonesia yang ke cenderung kiri secara ideologi, ia bahkan sangat condong ke kanan dalam spektrum pemikiran politik dan ekonomi. Ia adalah aktivis tipe baru. Bandingkan kembali dengan Fadjroel Rahman yang bercita-cita menasionalisasi aset-aset strategis terinspirasi dari kebijakan para pemimpin di Amerika Latin seperti Hugo Chavez. Dalam sejarahnya memang aktivis mahasiswa Indonesia banyak yang kiri secara ideologi, misalnya Hatta, Sjahrir, dan tentu saja Arief Budiman. Namun tentu saja kita harus melihat mereka secara historis sebagai bagian dari produk jaman. Kini di awal abad 21 ide-ide kiri konservatif ala nasionalisasi aset adalah mitos dan mereka yang tak beranjak darinya adalah mereka yang terbuai.
Apakah Rizal seorang ignoramus yang mengabaikan betapa pentingnya pengaruh pemikiran intelektual kiri? Kita pasti terkejut tatkala mengetahui bahwa pada masa mudanya sebagai mahasiswa Rizal justru sangat kiri sebagaimana diakui kakaknya, Andi Mallarangeng (Jakarta Post Weekender, Agustus 2008). Untuk menjelaskan transformasinya itu Rizal pun mengutip sebuah ungkapan yang sangat terkenal “mereka yang tidak kiri pada umur 20an artinya tak punya hati, tapi kalau masih kiri di umur 30, itu artinya ngga punya otak”. Ini satu dari sekian tindak-tanduknya yang membuat Rizal jadi legendaris di kalangan aktivis mahasiswa Gadjah Mada.
Kebaruan aktivisme Rizal juga dapat dilihat dari tindakannya yang lugas untuk tidak malu-malu berselingkuh dengan kekuasaan. Freedom Institute sebagian dananya ia peroleh dari kucuran dompet konglomerat Aburizal Bakrie yang juga seorang menteri dalam kabinet SBY. Mungkin karena itulah rekannya sesama aktivis, lagi-lagi Fadjroel Rahman, menuduhnya sebagai serdadu intelektual SBY.
Yang kedua menarik dari Bung ini tentu saja iklan politiknya yang unik berbentuk surat, dimuat di sebuah koran nasional beberapa waktu lalu. Inti surat Rizal adalah menjelaskan pilihannya untuk terjun dalam bursa calon presiden dalam pemilu 2009. Rizal tentu sadar kalau tindakannya mirip mimpi di siang bolong sebab ia tak punya basis dukungan kuat dari partai ataupun ormas tertentu. Tapi apa tepatnya apologi Rizal?
Rizal dengan tegas dalam suratnya menyatakan bahwa tindakannya masuk bursa calon presiden bukan masalah kalah atau menang. Pesannya singkat, bahwa di tengah stagnasi regenerasi kepemimpinan nasional yang didominasi muka lama ada anak muda yang berani mengemban tanggung jawab untuk memimpin.
Terobosan ala Rizal tentu menyegarkan saat kita menyadari banyak aktivis kita yang buntu dalam berpolitik. Pun mereka biasanya hipokrit dalam masalah kekuasaan. Mereka awalnya mengkritik namun akhirnya hanyut ketika berkuasa. Rizal justru beda, ia dengan terang-terangan menunjukkan ambisinya untuk ikut dalam gerbong kekuasaan.
Jika anda bosan dengan aktivis muka lama dan retorika usang, anda perlu beri perhatian lebih pada Bung satu ini. Manuver politik dan gagasannya sungguh-sungguh berbahaya.
Pemimpin seperti apa?
Kepemimpinan Yang Jazzy
Kepemimpinan yang bertumpu pada daya kreasi rakyat atau Kepemimpinan yang tidak melekat pada person tetapi sebuah kolektif kesadaran rakyat untuk menggerakan perubahan
Berbeda dengan musik klasik, ada dirigen, partitur, pemain musik yang tertib di tempatnya masing, segudang pakem-pakem musik klasik, maka didalam musik jazz kebebasan, kreatifitas, keliaran, kejutan merupakan nafas dan jiwa musiknya. Ada saxophone, flute, drum, perkusi, bass gitar, piano yang masing-masing berdaulat penuh.
Disatu sisi ada keliaran, tapi segala keliaran tetapmenghasilkan harmoni yang asyik. Kebebasan dan keliaran tiap musisi, patuh pada satu kesepakatan, saling menghargai kebebasan dan keliaran masing-masingmusisi sekaligus menemukan harmoni dan mencapai tujuannya, yakni kepuasan diri musisinya dan kepuasan pendengarnya.
Jadi selain kebebasan juga ada semangat saling memberi ruang dan kebebasan, saling memberi kesempatan tiap musisi mengembangkan keliarannya (improvisasi) meraih performance terbaik. Keinginan saling mendukung, berdialog, bercumbu bukan saling mendominasi, memarginalisasikan dan mengabaikan.
Seringkali saat bermusik ada momen-momen ketika seorang musisi diberikan kesempatan untuk tampilkedepan untuk menampilkan performance sehebat-hebatnya, sedangkan musisi lain agakmenurunkan tensi permainannya.
Tapi anda tentunya tau gitar tetap gitar, tambur tetap tambur, piano tetap piano. Namun demikian dialog antar musisi dilakukan juga dengan cara musisi piano memainkan cengkok saxophone, musisi perkusi memainkan cengkok bass betot. OHOOOOOOOOO guyub dan elok nian.
Lepas dari jiwa musik jazz yang saya sampaikansebelumnya tetap saja ada juga yang ‘memimpin’, pusatgagasan dan inspirasi tentunya dengan kerelaan memberi tempat kepemimpinan dari semua musisi. Bisa dalam bentuk beberapa person/lembaga maupun kolektifitas.
Misalnya dalam grup Chakakan bahwa vocalisnya Chahakan adalah inspirator utama grup ini. Apa yang menarikdari vokalis Chahakan ini adalah dia yang menjadi inspirator, penulis lagu dan partitur dasar musiknya,selain itu improvisasi, keliaran dan kekuatan vokalnya menebarkan energi , menyetrum dan meledakkan potensi musisi pendukungnya.
Model kepemimpinannya bukan seperti dirigen dalam musik klasik yang menjaga kepatuhan dan disiplin tanpa reserve, tetapi lebih menjadi penjaga semangat (nilai-nilai, atau bahkan cita-cita kolektif), memberiruang bagi setiap musisi untuk pengayaan gagasan danproses yang dinamis. Baik ketika mematerialkan gagasan maupun ketika berproses di panggung atau di studio rekaman. Tidak memaksakan pola yang baku dan beku, tetapi sangat dinamis dan fleksibel.
Setiap penampilan mereka di panggung adalah penemuan cengkok-cengkok baru, nyaris sebenarnya setiap performance selalu baru. Tidak ada penampilan yang persis sama. Tetapi tetap mereka dipandu tujuan yang sama memuaskan kebutuhan masing-masing musisi dan pendengarnya,menggerakan dan merubah.
Yang menarik juga dari jazz ini adalah sifatnya yangterbuka, open mind, open heart. Waljinah, master penyanyi keroncong dengan lagu walang kekeknya, ataulagu bengawan solonya gesang, atau darah juang lagu perlawanan itu, ravi shankar dengan sitar, rebab dan spirit indianya, atau bahkan internasionale dan maju tak gentar, atau imaginenya john lennon, atau reportoar klasik bach, bahkan dangdut pun, bahkan lagu-lagu spiritual bisa diakomodir oleh musisi jazz dan jadi jazzy.
Itulah karakter kepemimpinan yang asyik, kepemimpinan yang berkarakter kepemimpinan spiritual, menjaga dan menyalakan spirit/semangat/ nilai-nilai/ garis perjuangan, menyeimbangkan dan mencapai harmoni musik.
Selain itu kepemimpinan ini harus bisa fleksibel dalam pengayaan pilihan-pilihan pendekatan, bisa menawarkannuansa keroncong, dangdut, gending, samba, regge,rock, gambus, pop, klasik dalam bermusik jazz. Ataumemberi peluang atau kesempatan satu musisi atau alat musik leading, maju kedepan dan yang lainnyamemperkaya di latar belakang. Lepas dari itu bukan berarti saya lebih mencintai jazz, dibanding klasik, new age atau dangdut, tetapiini lebih kepada menemukan analogi dan metafora.
hmmm.. apakah artikel ini merupakan kampanye juga?
bukan kampanye bang Indra, ini cuma dukungan pribadi
kita lihat di 2009 nanti, ya gak??
btw Rizal gak kreatif tuh masa nyontek kampanye obama
BO 08 jadi RM 09 (rumah makan 09) heheheh sorry OOT..