Saya mencoba memahami mahasiswa generasi saya sekarang yang di duapuluhan umurnya masih menadah tangan pada orang tua, atau sedang bingung memikirkan esok mau kerja apa disaat menguyah bigmac. Lalu saya bayangkan Sutan Sjahrir tujuh puluh sembilan tahun yang lalu di Leiden merajut mimpi tentang sebuah negara bernama Indonesia.
Yang mempertemukan kami cuma usia, Bung Sjahrir berumur dua puluhan tahun saat itu, sisanya terbentang sebuah pertanyaan yang memenuhi kepala saya sekarang; ada apa dengan sang generasi muda?
Saya pesimis. Sementara dahulu Bung Sjahrir menyelam dalam studinya sekalian belajar berpolitik dan membibit kader bersama Hatta di Perhimpunan Indonesia, saya kini sibuk window shopping di mall. Sembari melirik mbak-mbak Giordano.
Tidak ada yang salah dengan window shopping dan mall, yang salah adalah ketika kami mabuk dengan privilege kami sebagai kelas menengah yang secara finansial mampu dan lupa dengan tanggung jawab kami sebagai golongan yang seharusnya membawa perubahan. Kami adalah kelas yang sadar politik, terpelajar dan mempunyai aksesibilitas hampir tak terbatas. Karena itu, kami punya tanggung jawab pada mereka yang terpinggirkan, tak berdaya secara ekonomi, dan dilupakan dalam pengambilan kebijakan.
Saya makin pesimis. Presiden saya baru saja mengucapkan selamat hari sumpah pemuda lewat sms berisikan pesan agar saya tidak terjerat narkoba. Mungkin dia tahu, dengan kemudahan yang kami punyai, kemungkinan kami menjadi generasi hedon-epicurean sangatlah besar.
Skripsi saya belum selesai, saya muak dengan aktivisme mahasiswa yang kampungan sok revolusioner, saya kehilangan kepercayaan dengan rekan mantan aktivis yang berpolitik mau menghamba Prabowo hanya karena ia kini pasang nama petani dan pedagang pasar.
Saya mau makan bigmac di malioboro mall. Ini baru potret pemuda Indonesia.
ada kondisi sosiologis kan yang mempengaruhi realitas kepemudaan kita? meski begitu kondisi sosial tentu tak bs disalahkan terus2an karena ada kebebasan individu juga.
tapi, perbandingan yang km buat itu, ambil pendapatnya Hikmat Budiman, adlh membandingkan hal-hal terbaik di masa lalu dengan hal2 terburuk di masa ini. membandingkan Sjahrir dg pemuda2 yang kongkouw di mall jelas bukan perbandingan yg fair, bukan?he2.
salam kenal
kesadaran terhadap bentangan sejarahlah yang menjadikan pemuda kusam sebagai pemuda. dan bingung menentukan arah tujuan. jangankan mikir tentang besok. ditanya apa cita-citanya, mereka akan cenderung berpikir ulang.
dan bisa jadi mereka akan bertanya demi diri mereka sendiri: untuk apa ya aku hidup?
nanti kan kejawab sendiri ketika anda dah ngak jadi mahasiswa
seseorang akan bisa melihat dirinya sendiri ketika ia lepaskan ke AKU anya
jadi…
kuncinya adalah …
pengalaman
*mengutip pembicaraan kemarin*
hehehehehehe
biarlah nggak nyambung
ayok, kita makan mekdi!!
sambil omong-omong tentang masa depan.