Konon, seorang penyair bisa meramal kematiannya sendiri di baris-baris puisinya. Contoh paling terkenal tentu saja Chairil Anwar yang pernah menulis ‘di Karet (daerahku y. a. d.)’.
Saya ingin sekali dikenang sebagai penyair, kalau begitu. Saya ingin menulis tentang bagaimana rasanya menjemput ajal di dalam tidur. Tentang sang penyair menanti akhir bersama sang kekasih yang tak kuat menahan isak, kusyuk dalam doa.
Lagu pengiring di liang lahat mungkin, ‘You are the best thing that ever happened to me’ dari sebuah kaset sweet memories tua.
Saya tak tahu rupa ajal. Tapi saya tahu bagaimana rasanya meregang dicekam maut. Dalam takut dan asa yang hampir putus, saya beruntung sekali ditemani seseorang di tepi pembaringan. Rumah sakit, dan jerit seram di tengah malam. Ia yang mengulurkan tangan dan kasihnya dalam genggam tangan yang hangat, yang memandikan saya layaknya seorang Ibu saat membasuh anaknya untuk pertama kali, yang menahan marah ketika saya sedang banyak tingkah, yang menemani saya menangis. Ia yang menerima saya dalam papa. Ia yang tabah.
Saat itu pula saya takluk. Saat itu pula saya tahu saya telah berlabuh. Saya ingin sekali berlutut dan mencium telapaknya yang menjanjikan surga. Saya ingin menangis. Sungguh.
Saya tak yakin bagaimana cara maut mengecup saya nanti.
Yang saya tahu pasti, saya ingin ia ada di samping saya. Mengulur asa yang tulus di kedip terakhir mata saya.
Saya tak pasti apa lagu terakhir pemakaman saya nanti. Yang saya tahu, saya ingin ia menyanyikan ‘you are the best thing ever happened to me’ dalam hati.
Untuk senja pacar saya. Tak usah cemburu. Aku milikmu.