Feeds:
Posts
Comments

Routledge

In one of my conversations with some pals regarding the quality of our lecturers, this topic suddenly comes up; is there anyone from Indonesia whose works has been published by international publisher such as Routledge etc? 

This question has shown pretty much of my ignorance, hasn’t it? 

Off course, there are some bright Indonesian guys out there. In the social sciences only, my current field, I acknowledge later that Dr. Abidin Kusno’s Behind the Postcolonial and later on in 2006 Ariel Heryanto’s State Terrorism and Political Identity in Indonesia have been published by Routledge. Ah, yes, some works by Vedy Hadiz too. 

Some people from my faculty are no exception. I get the news recently that, rumor has it; Mas Pujo’s book will be published by Routledge. Not to mention other big names that I found, later on still, their works in English published by international publisher. 

It turns out that I’m not very aware about some bright guys in my faculty. 

I found Dr. Abidin Kusno’s book at PSSAT library, and I almost forgot the fact that Abi’s graduating paper— has been published by Ombak—rely very much on this book as to Kusno himself write the ‘kata pengantar’ for Abi’s Membayangkan Jakarta di Bawah Soekarno

Unfortunately, I haven’t got Ariel’s book. Some reviews, like Sammuel Hanneman’s at Kompas praise it fairly. Too bad, a student like me never has the financial ability to order it directly at Amazon.

Rizal

If you are a student activist from the Faculty of Social and Political Sciences, GMU, then chances are you dislike Rizal Malarangeng so bad. Though you know that he founded Sintesa, the student press of your faculty, that he was a celebrated disciple of Kang Azhari Siregar, and that he once coined this famous remark;

…mahasiswa kalau umur 20 ngga Marxist, itu namanya ngga punya hati. Tapi kalau 30 masih Marxist, itu namanya ngga punya otak.

Yes, I know that’s definitely not original—Churchil made a slightly the same remark on being liberal. But, man, you have to admit that that’s really kicking some ass.

One problem you have with Rizal is that he never stands out on the populist side. You remember still he sponsored that controversial Freedom Institute’s advertisement. He was also a negotiator in Cepu mining deal, which you probably damn as our lost to the evil capitalist’s power of Exxonmobile Company. And finally, the institute in which he holds the position of executive director is financially supported by Bakrie—the filthy rich man who owned Lapindo Brantas Inc.

But he writes very well. And I couldn’t care less.
His well-written dissertation is cheap enough to make you thank God that it’s real. I got it for only ten thousands rupiah. Even subsidized Tempo magazine for students is way more expensive.

And still, he writes very well.
At least I agree with M. Chatib Basri when he says;

Begitu selesai membaca naskah asli disertasinya saya menyadari betapa ‘berbahayanya’ orang ini, karena dia menulis dengan begitu baik dan memikat.

I couldn’t agree more.

Circumcision? Wow, No Thanks!

I always fade away should I see blood, human blood, spilled. Even in the most trivial accident like seeing somebody’s finger cut. Sometimes I can stand it, at times when the blood spilled only a few drops, but most of the time I loose my strength immediately.

I didn’t understand the reason behind this. However, a Freudian analysis might suggest that this is a neurosis I suffer from traumatic experience in the past. What’s in the past that makes me suffer from this neurosis?

As I recall memories from the past, I am getting to believe that it was probably the experience of seeing blood spilled from my genital. Probably. The first fading away I can remember is that when I screamed like a freak, soon after that I was away failed to pull myself together, at a Puskesmas. It was sometime in the early 90’s when I was a toddler still and Dad brought me there to get circumcised.

It hurt me, terribly painful, and I don’t want to get another circumcision ever again (cuz my genital, to my surprise, looks like it is never been circumcised at all). I don’t blame my Dad, I know his intention was good. But, taking it to a wrong place and leave it at wrong hands might be a decision you will regret for the rest of your life.

Whereas male circumcision might be widely acceptable in some cultures, especially to those belong to Jews and Muslims, a female circumcision might sounds horrible to us. Yes, I have never been to Africa or to be specific Egypt where this issue has been a ferocious debate this summer when a girl died due to malpractice of circumcising. Read it here.

egyptian girls

The government closed the clinic where it happened right away. To my surprise everyone there got stirred up.

“They will not stop us,” shouted Saad Yehia, a tea shop owner along the main street. “We support circumcision!” he shouted over and over.
“Even if the state doesn’t like it, we will circumcise the girls,” shouted Fahmy Ezzeddin Shaweesh, an elder in the village.

Well, probably these people don’t have any daughter at home. Probably, they have never experienced malpracticed circumcision themselves (hardly possible). Probably, they are just blind devoters of nowadays irrelevant custom.

When the great lord passes the wise peasant bows deeply and silently farts.

Sebuah pepatah Ethiopia yang ditulis kembali oleh James C. Scott dalam halaman pembuka bukunya Domination and the Art of Resistance ini mungkin cocok untuk menjadi ilustrasi cerita Bli Manik tentang nostalgia masa kecilnya. Lewat buku tersebut Scott menceritakan hasil penelitiannya di sebuah desa Melayu tentang bagaimana kaum yang terdominasi mempunyai seni tersendiri untuk mengekspresikan perlawanan mereka.

Sebagaimana yang sudah kita baca, Bli Manik menghadirkan kembali ke hadapan kita Manik kecil yang selalu terusir dari kelas pelajaran agama Islam yang diampu Pak Musa dan harus rela bercengkrama dengan Ditri kecil yang sialnya tak masuk dalam list pujaan hati. Pengalaman tak enak ini belum berhenti sampai disitu saja sebab Manik kecil masih harus tabah menerima ejekan dari Yudi yang kerap mengatainya tak disunat. Klop dah.

Apakah Manik kecil diam saja? Tentu tidak. Dia cukup cerdik untuk menghindari konfrontasi langsung dan sebagai gantinya membalas perlakuan tak mengenakkan ini di ‘wilayah kekuasaannya’, yaitu lapangan bola. Jadilah kaki Yudi dan Abdi Sholahudin lebam tergasak kaki sang jagoan lapangan bola.

Manik kecil sebagai pihak yang diliyankan oleh logika kafir dan muslim ternyata juga punya seni tersendiri untuk ‘melawan’. Kalau disandingkan dengan pepatah Ethiophia dan penelitian Scott diatas the resemblance is uncanny, hehehe.

Saya ingin berbagi pendapat dengan tentang seni ‘melawan’ ala Bli Manik tersebut. Namun pertama-tama izinkan saya menceritakan sebuah pengalaman saya pribadi.

Saya lahir dan dibesarkan di Tabanan, sebuah kabupaten yang dikenal antara lain sebagai (sudah jadi cliche) pertama, lumbung berasnya Bali; kedua, tempat lelaki Bali bisa nyentana atas nama cinta. Atau yang agak orisinal; tanah kelahiran Putu Setia—beliau di Pujungan saya di Kediri, dan mungkin dari legenda turun temurun kalau Cokorda Tabanan terdahulu yang dikenal sebagai Cokorda Bikul turun ke sawah maka semua tikus yang menghantui petani lenyap tak berbekas.

Satu karakteristik menarik yang dimiliki Tabanan, lebih spesifik lagi Kediri tempat saya dibesarkan, adalah heterogenitas demografis penduduknya. Karakteristik yang mungkin hanya dimiliki oleh beberapa daerah lain di Bali seperti Singaraja dan Negara. Di kota ini kaum Muslim, Cina dan Hindu tinggal bersama dan berbagi lahan secara turun temurun. Dalam penelitian Clifford Geertz di Tabanan sekitar tahun 50an—yang kemudian dibukukan dengan judul Peddlers and Princess—terdapat peta Tabanan yang menerakan sebuah kampung Jawa dan daerah pertokoan milik Cina.

Kediri, kota kecamatan yang jadi salah satu pusat kota Tabanan, menjadi kampung masa kecil saya. Tempat dimana nostalgia berlabuh, sebagaimana layaknya Sendowo bagi Bli Manik. Saya menjalani masa sekolah dasar hingga kelas empat SDN 7 Kediri (kalau tak salah ingat?) yang terletak di kompleks BTN Taman Sekar, sekitar satu kilometer di timur Terminal Kediri. Karena daerahnya dekat terminal—terminal ini daerahnya memang agak di selatan kota Tabanan, tampaknya pas dengan penggambaran Kampung Jawa dalam peta di buku Geertz—tentu banyak enclave perkampungan Muslim Jawa dan Madura baik yang terawat maupun yang serupa ghetto. Tak heran jika saya bergaul dan bersekolah dengan anak tukang sate, pemulung, dan pekerja kasar lainnya sampai haji juragan bakso dan tauke Cina. Karib saya ada Paton, Sahid, dan Toris; si muslim totok, produk lokal, yang kebetulan albino sehingga tampilan luarnya bule overseas.

Interaksi antar bocah tentu tak lepas dari pengalaman-pengalaman seru baik yang manis maupun yang membuat miris. Dari sekian yang membuat miris tersebut ada satu pengalaman saya yang mirip dengan yang Bli Manik punya.

Begini ceritanya.

Dalam sebuah kesempatan ketika saya dan teman-teman Hindu yang lain akan bersembahyang di padmasana sekolah saat rainan tiba, saya bersua Sahid di luar padmasana. Kebetulan ia non-Hindu, minoritas dan terdominasi jadi harus menunggu teman-teman lain selesai sembahyang. Tak seperti biasanya ia tiba-tiba nyeletuk kata-kata yang nyeleneh dan agak miring terdengar di telinga. Ia berkata kira-kira seperti ini:

“Agamamu menyembah berhala. Masakan patung disembah.”

Saya terdiam. Sebab saya tahu arti berhala. Dan memang yang biasa terlihat olehnya saya khusuk mencakupkan tangan di hadapan padmasana yang di matanya mungkin tak lebih dari patung biasa. Waktu itu saya berpikir keras antara hendak membalas jahil dengan mengatainya menyembah karpet ataukah mau keminter sok filosofis membebek apa yang dikatakan pak guru agama tentang konsep keTuhanan dalam Hindu. Dengan harapan dapat menjembatani kesenjangan dan keberbedaan kultural kapital diantara kami berdua.

Tugas yang kedua cukup berat bagi anak SD seumuran saya saat itu. Sementara yang pertama juga tak kalah berat ketika tiba-tiba saja lidah saya jadi kelu. Entah, mungkin karena terlalu lama berpikir.

Refleksi atas memori masa kecil itu membuat saya sadar kalau pengalaman menjadi minoritas adalah pengalaman yang jamak dialami orang lain. Kesimpulan yang membuat saya bersyukur atas sikap diam yang kebetulan dulu saya ambil.

Teman-teman Muslim yang menjadi mayoritas di Sendowo adalah sisi lain dari mata uang yang sama, yaitu kami anak-anak Hindu di Kediri. Sebagaimana sakit hati terpendam Manik kecil adalah ekspresi sinis perasaan Sahid cilik yang juga nasibnya mirip; diliyankan dan terdominasi.

Seandainya saja Sahid mau bercerita pengalamannya menjadi bocah minoritas tentu saya tahu mengapa ia sampai nyeletuk seperti itu. Hal yang sama juga berlaku bagi Yudi dan Abdi Sholahudin; kalau mereka kebetulan baca posting Bli Manik, tentu mereka jadi tersadar apa sebab dahulu mereka segan main bola lagi dengan Manik kecil yang gahar menggaprak kaki lawan.

Seni ‘melawan’ tampaknya juga jamak ada di mana-mana.
Mereka sedang kentut. Mohon maklum :-)

karikatur dari rekan-rekan VIS-NEWS London

Kontroversi tentang puisi Saut Situmorang yang dimuat oleh Republika dimulai ketika Bli Gde Purwaka mengirim surat ke moderator mediacare yang isinya menyayangkan puisi Saut. Menurut Bli Gde, puisi Saut menggunakan seksualitas sebagai tolok ukur kesusastraan dan beberapa bagiannya darinya dinilai telah menyinggung perasaan umat Hindu Bali.

Lalu dimulailah polemik dalam milis yang kebetulan memang panas, tak terarah, dan jauh dari mencerahkan itu.

Jika ingin mengikuti, silahkan lihat polemik tersebut http://mediacare.blogspot.com atau tanggapan atasnya di media bali sebelum membaca komentar saya dibawah ini.
Pertama-tama, saya ingin memilah dua wilayah dimana orang-orang diatas berdebat. Yang pertama adalah wilayah diskursus normatif dan yang kedua wilayah diskursus sastra.

Dari kedua wilayah tersebut, hampir semuanya mengarah ke wilayah normatif menghakimi puisi Saut sebagai tak bermoral dan tak satupun yang membela Saut secara normatif. Pembelaan pada Saut hanya dilakukan pada wilayah diskursus sastra. Wayan Sunarta, seorang satrawan muda Bali yang cukup terdepan saat ini, cerpennya yang berjudul Cakra Punarbawa pernah menjadi cerpen terbaik Kompas, membela Saut dengan mengatakan puisi itu sebenarnya parodi dari puisi yang berjudul “Pelacur Para Dewa” karya Pranita Dewi.

Saya ingin kita melihat konteks permasalahan ini kembali.

Saut menulis puisi, sebuah karya sastra dan bukan surat pembaca, dimuat di ruang yang pas pula yaitu lembar sastra sebuah koran yang sayangnya punya warna yang dianggap kontras dengan kita kaum Hindu Bali. Namun apapun itu, puisi Saut berada di wilayah yang semestinya; lembar sastra.

Karena itu, jika kita ingin mendekati puisi Saut dalam bentuk kritisisme alangkah baiknya dari wilayah diskursus sastra. Namun adakah yang mau membahas puisi Saut dalam wilayah sastra?

Semua mundur teratur ketika akan masuk ke wilayah ini. Ada beberapa argumen, tapi mentah.

Misalnya ada yang mengatakan kata-kata dalam puisi Saut sebagai bombastis, klise dan khas pemula. Bolehlah argumen ini. Tapi ketika mengatakan tidak pantas menggunakan seksualitas sebagai ukuran sastra—maksudnya tidak pantas ada unsur seksualitas dalam sastra—argumen ini jadi mentah. Matah kelur, kata nak Buleleng. Di belakang sebutan matah kelur ini berbaris orang-orang seperti Taufik Ismail, dan bahkan Saut yang jadi terkesan menelan ludah sendiri.

Seksualitas dalam Sastra dan Creative Destruction

Jika intens mengikuti perkembangan sastra baik disini maupun di barat sana, seksualitas adalah hal yang tak terpisahkan dalam sastra. Serat Gatoloco misalnya menggambarkan percintaan antara Adipati dengan seksual partnernya yang, mohon jangan terkejut, laki-laki. Di barat sana, magnum opus Baudelaire, Le Fleur du Mal pernah dilarang dibaca karena menggambarkan hal-hal yang tidak pantas termasuk percintaan panas dengan pelacur. Tapi sejarah membuktikan, karya ini adalah tonggak yang selalu diziarahi kembali.

Jejak-jejak perjalanan kesastraan ini tentu sudah sampai juga ke penyair-penyair kita. Seperti misalnya Pranita Dewi, yang menggunakan kata-kata semacam ‘pelacur para dewa’.

Masalah karya ini secara normatif bertentangan dengan agama adalah masalah lain lagi yang—saya ingin informasikan—kebetulan tidak menjadi concern utama dalam diskursus sastra dan seni pada umumnya. Mirip para ekonom liberal yang selalu mengaku tak membicarakan moral.
Hal ini dibuktikan lewat fakta bahwa teks-teks yang akhirnya dikategorikan sebagai sastra tidak harus selalu benar secara normatif. Sastrawan seperti Baudelaire karena sifat deviannya tadi pada akhirnya membawa gelombang baru dalam diskursus sastra yang disebut dengan modernisme.

Modernisme; creative destruction. Menghancurkan tatanan lama, sembari membangun sesuatu yang baru. Deviasi dalam sistem apapun—entah sastra, masyarakat, bahkan agama; ingat bahwa kebanyakan agama-agama lahir sebagai jawaban atas keadaan masyarakat yang perlu dibenahi—selalu diperlukan untuk membentuk keseimbangan baru dan sebagai sebuah progress yang perlu disikapi. Bagi sebagian anggota masyarakat yang normatif plus konservatif pada tatanan lama deviasi dan creative destruction memang terasa menyakitkan.

Polemik atas karya sastra yang menunjukkan deviasi menjadi bukan kejutan ketika jejak langkah kesusastraan Indonesia, harus diakui, cenderung diarahkan ke bandul normatif. Dapat dilihat bahwa di Indonesia literature diterjemahkan menjadi sastra dan dalam pembentukan kata turunannya menjadi kesusastraan dan bukan kesastraan. Secara etimologis, susastra berarti sastra yang baik. Dan disini baik itu saudara kembarnya benar. Masalahnya adalah, konsep benar akan jadi problematis ketika benar itu bisa berbeda-beda tergantung dari dengan siapa kita bicara, dalam konteks diskursus apa, dan kapan.

Namun di sisi lain tetap ada orang-orang yang percaya dengan semangat creative destruction tadi. Mereka tak perlu takut menyajikan seksualitas dalam karyanya dan tak segan melibas kungkungan normatif. Ini usaha untuk mencapai keseimbangan baru, yaitu masyarakat yang yang secara estetis bertenggang rasa.

Wacana Tubuh yang Unik dalam Seni

Yang kedua saya ingin membahas teks dari Pranita Dewi. Ini penting karena jangan-jangan memang ada dialog dari puisi Saut sebagai tanggapan atas karya Pranita Dewi.
Ada tanggapan dari seorang milister tentang sajak Pranita dewi yang menurutnya:

Dalam sajak “Aku Pelacur Para Dewa” kan terasa benar semangat “memberontak” berdasarkan pengalaman agamawi yang “authentic”, akan tetapi dalam sajak Saut Situmorang pengalaman seperti itu tidak ada, mungkin karena pengarangnya bukan seorang Hindu, hanya terasa sebagai usaha mencari-cari efek keren, sok berani mengucapkan kata-kata kotor seperti yang biasa dilakukan anak puber.

Hati-hati dengan argumen seperti ini.

Pengalaman membaca seseorang berbeda-beda. Fakta ini akan menggiring ke satu lagi perbincangan mengenai cara mendekati seni. Seni dalam salah satu aspeknya dianggap sebagai wacana tubuh. Maksudnya ketika seseorang berhadapan dengan objek atau karya seni maka akan timbul komunikasi antara tubuh subjek pembaca karya seni dengan karya seni tersebut. Sederhananya, pinggul anda bisa bergoyang ketika mendengar beat lagu dangdut, geleng-geleng kepala ketika mendengar lagu ajeb-ajeb khas diskotik, atau yang lebih subtil menangis terharu ketika membaca novel Para Priyayinya Umar Kayam. Nah, pengalaman tubuh itu unik.

Mari kaitkan konsep ini dengan pengalaman milister diatas yang membantah sanggahan Wayan Sunarta karena merasa sajak Pranita Dewi tak bisa disamakan dengan milik Saut. Menurutnya sajak Pranita Dewi walau menggunakan kata-kata dengan konotasi negatif tetap terasa semangat memberontak dan pengalaman agamawi yang authentic, sementara Saut yang bukan Hindu jelas tak mungkin mengalaminya. Ini terdengar di telinga saya sebagai pendapat pribadi yang diskriminatif sementara mengesampingkan subtansi permasalahan yaitu fakta bahwa kedua penyair tersebut menggunakan kata-kata berkonotasi negatif.

Wayan Sunarta mengacu pada Pranita Dewi karena ia juga menggunakan kata-kata yang berkonotasi negatif seperti pelacur dan dikaitkan dengan para Dewa. Tapi kenapa Pranita tak jadi masalah? Apa karena yang membaca adalah kita orang Bali dan Pranita juga orang Bali, maka ada legitimasi genealogis yang mengizinkan Pranita menggunakan kata-kata tertentu sebagai sarana penyampaian dalam puisinya?

Nah, disini kita harus hati-hati. Saya kecewa jika kita mengarah dan terjebak jatuh dalam argumen seperti itu.

Karena pengalaman membaca karya seni bisa berbeda-beda, maka kita seyogyanya—dalam diskursus sastra—menghormati pengalaman pembacaan orang lain. Orang lain mungkin tak tersinggung membaca puisi Saut, bahkan mungkin terkesan. Coba tanya redaktur Republika.

Di luar argumen tentang sastra itu, sikap mereka yang tersinggung untuk tidak perlu mensomasi apalagi mendemo Saut sangat dewasa. Patut kita acungi jempol dan kita dukung.

Kita yang Minder Menghadapi Komunikasi Publik yang tak Strategis

Pemuatan puisi Saut oleh Republika memang problematis. Tetapi masalahnya bukan pada puisi yang harus bebas dari muatan seksualitas. Ataupun kungkungan norma-norma, apalagi yang berasal dari agama. Agama puisi dan seni pada umumnya adalah kebebasan berekspresi.
Puisi ini baru jadi masalah ketika ditulis oleh bukan orang Hindu Bali dan dimuat Republika yang di mata sebagian dari kita ’ Surat kabar nasional, Islam, akrab dan cerdas’. Nuansa agamisnya itu lho, yang bikin kita jadi minder terasa ditindas.

Sautnya sendiri sebagai seorang sarjana sastra, dan sastrawan yang menulis, ia mau menulis apa terserahlah. Masyarakat yang akan menilai apa tulisannya akan dibaca atau tidak. Lagipula ia cuma sastrawan wilayah periferal yang tak berdaya melawan dominasi dari apa yang ia sebut sebagai Utan Kayu Connection.

Akhirul kalam, menurut saya ini tak lebih dari sebuah contoh komunikasi publik yang tak strategis, secara normatif ngga bener bagi sebagian orang, dan ditulis oleh penyair yang tak cukup cerdas untuk membela diri dan meminta maaf.

Kenapa saya cenderung melihatnya sebagai komunikasi publik yang tidak strategis? Puisi Saut ketika muncul di ruang publik, dibaca orang dan menjadi polemik, mempunyai dua efek. Yang pertama memberi kesempatan anggota masyarakat yang awam sastra untuk lebih bertenggang rasa dalam membaca karya seni, dan mengetahui lebih banyak tentang perbincangan dalam diskursus sastra itu sendiri. Yang kedua adalah memanaskan relasi antar umat beragama yang kini harus diakui sedang labil.

Yang kedua saya rasa lebih terasa mudaratnya. Terlebih ketika ia muncul di Republika yang menurut sebagian orang sangat kentara warnanya apa (ini juga masih bisa didebat). Makanya banyak tanggapan yang menanyakan apakah Republika mau memuat puisi sejenis tapi dengan fokus ke nabi tertentu. This is a different topic, let’s keep it for another discussion.

Kita sebagai umat Hindu sebaiknya tak usah repot berlebihan memberi tanggapan pedas pada Saut. Tersinggung bolehlah. Pendapat yang terlalu pedas cuma menunjukkan kita minder memainkan peran sebagai minoritas serta terkesan belum matang beragama.
Dan jika mau diingat-ingat lagi, polemik ini sebenarnya kasus usang. Orang bisa balik lagi ke kasus Rushdie, Ki Panjikusmin, Robohnya Surau Kami, Bahri, dan Saut-Saut lain di masa depan. Inilah bumbunya orang beragama. Nikmati saja.

Yogyakarta, 16 September 2007

« Newer Posts