
Kontroversi tentang puisi Saut Situmorang yang dimuat oleh Republika dimulai ketika Bli Gde Purwaka mengirim surat ke moderator mediacare yang isinya menyayangkan puisi Saut. Menurut Bli Gde, puisi Saut menggunakan seksualitas sebagai tolok ukur kesusastraan dan beberapa bagiannya darinya dinilai telah menyinggung perasaan umat Hindu Bali.
Lalu dimulailah polemik dalam milis yang kebetulan memang panas, tak terarah, dan jauh dari mencerahkan itu.
Jika ingin mengikuti, silahkan lihat polemik tersebut http://mediacare.blogspot.com atau tanggapan atasnya di media bali sebelum membaca komentar saya dibawah ini.
Pertama-tama, saya ingin memilah dua wilayah dimana orang-orang diatas berdebat. Yang pertama adalah wilayah diskursus normatif dan yang kedua wilayah diskursus sastra.
Dari kedua wilayah tersebut, hampir semuanya mengarah ke wilayah normatif menghakimi puisi Saut sebagai tak bermoral dan tak satupun yang membela Saut secara normatif. Pembelaan pada Saut hanya dilakukan pada wilayah diskursus sastra. Wayan Sunarta, seorang satrawan muda Bali yang cukup terdepan saat ini, cerpennya yang berjudul Cakra Punarbawa pernah menjadi cerpen terbaik Kompas, membela Saut dengan mengatakan puisi itu sebenarnya parodi dari puisi yang berjudul “Pelacur Para Dewa” karya Pranita Dewi.
Saya ingin kita melihat konteks permasalahan ini kembali.
Saut menulis puisi, sebuah karya sastra dan bukan surat pembaca, dimuat di ruang yang pas pula yaitu lembar sastra sebuah koran yang sayangnya punya warna yang dianggap kontras dengan kita kaum Hindu Bali. Namun apapun itu, puisi Saut berada di wilayah yang semestinya; lembar sastra.
Karena itu, jika kita ingin mendekati puisi Saut dalam bentuk kritisisme alangkah baiknya dari wilayah diskursus sastra. Namun adakah yang mau membahas puisi Saut dalam wilayah sastra?
Semua mundur teratur ketika akan masuk ke wilayah ini. Ada beberapa argumen, tapi mentah.
Misalnya ada yang mengatakan kata-kata dalam puisi Saut sebagai bombastis, klise dan khas pemula. Bolehlah argumen ini. Tapi ketika mengatakan tidak pantas menggunakan seksualitas sebagai ukuran sastra—maksudnya tidak pantas ada unsur seksualitas dalam sastra—argumen ini jadi mentah. Matah kelur, kata nak Buleleng. Di belakang sebutan matah kelur ini berbaris orang-orang seperti Taufik Ismail, dan bahkan Saut yang jadi terkesan menelan ludah sendiri.
Seksualitas dalam Sastra dan Creative Destruction
Jika intens mengikuti perkembangan sastra baik disini maupun di barat sana, seksualitas adalah hal yang tak terpisahkan dalam sastra. Serat Gatoloco misalnya menggambarkan percintaan antara Adipati dengan seksual partnernya yang, mohon jangan terkejut, laki-laki. Di barat sana, magnum opus Baudelaire, Le Fleur du Mal pernah dilarang dibaca karena menggambarkan hal-hal yang tidak pantas termasuk percintaan panas dengan pelacur. Tapi sejarah membuktikan, karya ini adalah tonggak yang selalu diziarahi kembali.
Jejak-jejak perjalanan kesastraan ini tentu sudah sampai juga ke penyair-penyair kita. Seperti misalnya Pranita Dewi, yang menggunakan kata-kata semacam ‘pelacur para dewa’.
Masalah karya ini secara normatif bertentangan dengan agama adalah masalah lain lagi yang—saya ingin informasikan—kebetulan tidak menjadi concern utama dalam diskursus sastra dan seni pada umumnya. Mirip para ekonom liberal yang selalu mengaku tak membicarakan moral.
Hal ini dibuktikan lewat fakta bahwa teks-teks yang akhirnya dikategorikan sebagai sastra tidak harus selalu benar secara normatif. Sastrawan seperti Baudelaire karena sifat deviannya tadi pada akhirnya membawa gelombang baru dalam diskursus sastra yang disebut dengan modernisme.
Modernisme; creative destruction. Menghancurkan tatanan lama, sembari membangun sesuatu yang baru. Deviasi dalam sistem apapun—entah sastra, masyarakat, bahkan agama; ingat bahwa kebanyakan agama-agama lahir sebagai jawaban atas keadaan masyarakat yang perlu dibenahi—selalu diperlukan untuk membentuk keseimbangan baru dan sebagai sebuah progress yang perlu disikapi. Bagi sebagian anggota masyarakat yang normatif plus konservatif pada tatanan lama deviasi dan creative destruction memang terasa menyakitkan.
Polemik atas karya sastra yang menunjukkan deviasi menjadi bukan kejutan ketika jejak langkah kesusastraan Indonesia, harus diakui, cenderung diarahkan ke bandul normatif. Dapat dilihat bahwa di Indonesia literature diterjemahkan menjadi sastra dan dalam pembentukan kata turunannya menjadi kesusastraan dan bukan kesastraan. Secara etimologis, susastra berarti sastra yang baik. Dan disini baik itu saudara kembarnya benar. Masalahnya adalah, konsep benar akan jadi problematis ketika benar itu bisa berbeda-beda tergantung dari dengan siapa kita bicara, dalam konteks diskursus apa, dan kapan.
Namun di sisi lain tetap ada orang-orang yang percaya dengan semangat creative destruction tadi. Mereka tak perlu takut menyajikan seksualitas dalam karyanya dan tak segan melibas kungkungan normatif. Ini usaha untuk mencapai keseimbangan baru, yaitu masyarakat yang yang secara estetis bertenggang rasa.
Wacana Tubuh yang Unik dalam Seni
Yang kedua saya ingin membahas teks dari Pranita Dewi. Ini penting karena jangan-jangan memang ada dialog dari puisi Saut sebagai tanggapan atas karya Pranita Dewi.
Ada tanggapan dari seorang milister tentang sajak Pranita dewi yang menurutnya:
Dalam sajak “Aku Pelacur Para Dewa” kan terasa benar semangat “memberontak” berdasarkan pengalaman agamawi yang “authentic”, akan tetapi dalam sajak Saut Situmorang pengalaman seperti itu tidak ada, mungkin karena pengarangnya bukan seorang Hindu, hanya terasa sebagai usaha mencari-cari efek keren, sok berani mengucapkan kata-kata kotor seperti yang biasa dilakukan anak puber.
Hati-hati dengan argumen seperti ini.
Pengalaman membaca seseorang berbeda-beda. Fakta ini akan menggiring ke satu lagi perbincangan mengenai cara mendekati seni. Seni dalam salah satu aspeknya dianggap sebagai wacana tubuh. Maksudnya ketika seseorang berhadapan dengan objek atau karya seni maka akan timbul komunikasi antara tubuh subjek pembaca karya seni dengan karya seni tersebut. Sederhananya, pinggul anda bisa bergoyang ketika mendengar beat lagu dangdut, geleng-geleng kepala ketika mendengar lagu ajeb-ajeb khas diskotik, atau yang lebih subtil menangis terharu ketika membaca novel Para Priyayinya Umar Kayam. Nah, pengalaman tubuh itu unik.
Mari kaitkan konsep ini dengan pengalaman milister diatas yang membantah sanggahan Wayan Sunarta karena merasa sajak Pranita Dewi tak bisa disamakan dengan milik Saut. Menurutnya sajak Pranita Dewi walau menggunakan kata-kata dengan konotasi negatif tetap terasa semangat memberontak dan pengalaman agamawi yang authentic, sementara Saut yang bukan Hindu jelas tak mungkin mengalaminya. Ini terdengar di telinga saya sebagai pendapat pribadi yang diskriminatif sementara mengesampingkan subtansi permasalahan yaitu fakta bahwa kedua penyair tersebut menggunakan kata-kata berkonotasi negatif.
Wayan Sunarta mengacu pada Pranita Dewi karena ia juga menggunakan kata-kata yang berkonotasi negatif seperti pelacur dan dikaitkan dengan para Dewa. Tapi kenapa Pranita tak jadi masalah? Apa karena yang membaca adalah kita orang Bali dan Pranita juga orang Bali, maka ada legitimasi genealogis yang mengizinkan Pranita menggunakan kata-kata tertentu sebagai sarana penyampaian dalam puisinya?
Nah, disini kita harus hati-hati. Saya kecewa jika kita mengarah dan terjebak jatuh dalam argumen seperti itu.
Karena pengalaman membaca karya seni bisa berbeda-beda, maka kita seyogyanya—dalam diskursus sastra—menghormati pengalaman pembacaan orang lain. Orang lain mungkin tak tersinggung membaca puisi Saut, bahkan mungkin terkesan. Coba tanya redaktur Republika.
Di luar argumen tentang sastra itu, sikap mereka yang tersinggung untuk tidak perlu mensomasi apalagi mendemo Saut sangat dewasa. Patut kita acungi jempol dan kita dukung.
Kita yang Minder Menghadapi Komunikasi Publik yang tak Strategis
Pemuatan puisi Saut oleh Republika memang problematis. Tetapi masalahnya bukan pada puisi yang harus bebas dari muatan seksualitas. Ataupun kungkungan norma-norma, apalagi yang berasal dari agama. Agama puisi dan seni pada umumnya adalah kebebasan berekspresi.
Puisi ini baru jadi masalah ketika ditulis oleh bukan orang Hindu Bali dan dimuat Republika yang di mata sebagian dari kita ’ Surat kabar nasional, Islam, akrab dan cerdas’. Nuansa agamisnya itu lho, yang bikin kita jadi minder terasa ditindas.
Sautnya sendiri sebagai seorang sarjana sastra, dan sastrawan yang menulis, ia mau menulis apa terserahlah. Masyarakat yang akan menilai apa tulisannya akan dibaca atau tidak. Lagipula ia cuma sastrawan wilayah periferal yang tak berdaya melawan dominasi dari apa yang ia sebut sebagai Utan Kayu Connection.
Akhirul kalam, menurut saya ini tak lebih dari sebuah contoh komunikasi publik yang tak strategis, secara normatif ngga bener bagi sebagian orang, dan ditulis oleh penyair yang tak cukup cerdas untuk membela diri dan meminta maaf.
Kenapa saya cenderung melihatnya sebagai komunikasi publik yang tidak strategis? Puisi Saut ketika muncul di ruang publik, dibaca orang dan menjadi polemik, mempunyai dua efek. Yang pertama memberi kesempatan anggota masyarakat yang awam sastra untuk lebih bertenggang rasa dalam membaca karya seni, dan mengetahui lebih banyak tentang perbincangan dalam diskursus sastra itu sendiri. Yang kedua adalah memanaskan relasi antar umat beragama yang kini harus diakui sedang labil.
Yang kedua saya rasa lebih terasa mudaratnya. Terlebih ketika ia muncul di Republika yang menurut sebagian orang sangat kentara warnanya apa (ini juga masih bisa didebat). Makanya banyak tanggapan yang menanyakan apakah Republika mau memuat puisi sejenis tapi dengan fokus ke nabi tertentu. This is a different topic, let’s keep it for another discussion.
Kita sebagai umat Hindu sebaiknya tak usah repot berlebihan memberi tanggapan pedas pada Saut. Tersinggung bolehlah. Pendapat yang terlalu pedas cuma menunjukkan kita minder memainkan peran sebagai minoritas serta terkesan belum matang beragama.
Dan jika mau diingat-ingat lagi, polemik ini sebenarnya kasus usang. Orang bisa balik lagi ke kasus Rushdie, Ki Panjikusmin, Robohnya Surau Kami, Bahri, dan Saut-Saut lain di masa depan. Inilah bumbunya orang beragama. Nikmati saja.
Yogyakarta, 16 September 2007